MENGENAL SANG LEGENDA DALANG WAYANG KULIT BETAWI Ki COMONG MENGENAL SANG LEGENDA DALANG WAYANG KULIT BETAWI Ki COMONG
  Salam rempug, pagi ini (Sabtu, 14 April 2018) saya dijemput oleh seorang saudara, yang bernama Jayadi, untuk berkunjung ke rumah Ki Rindon (76... MENGENAL SANG LEGENDA DALANG WAYANG KULIT BETAWI Ki COMONG

 

Salam rempug, pagi ini (Sabtu, 14 April 2018) saya dijemput oleh seorang saudara, yang bernama Jayadi, untuk berkunjung ke rumah Ki Rindon (76 tahun) salah seorang anak dan sekaligus penerus Dalang Wayang Kulit Betawi Ki Comong, yang tinggal di Kampung Pulojahe Kramat RT 05/05 Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung Jakarta Timur.

Memang sehari sebelumnya, saya sudah mengadakan janji pertemuan dengan Ki Rindon, melalui sodara saya tersebut. Saya ingin mengenal lebih jauh salah satu warisan budaya Cakung, yaitu Wayang Betawi. Apalagi Cakung, bukan hanya ibukota Jakarta Timur, tapi juga tempat kelahiran ormas terbesar di Jabodetabek, yakni Forum Betawi Rempug (FBR). Jadi, sudah sepantasnya, saya sebagai ImamFBR, harus menggali warisan budaya dan kearifan lokalnya, sehingga bisa dikembangkan sesuai kemajuan zaman.

Pukul 10.35 WIB, saya tiba di sana dan disambut Ki Rindon dan Misanannya, Kutut, dengan senyum ramah. Saya langsung diajak ziarah dulu ke area pemakaman keluarga H. Comong Bin Sengke, dan kebetulan juga terdapat makam Keramat—sehingga tempat itu dikenal dengan nama Pulojahe Kramat.

Saat saya bertanya siapa nama orang yang dimakamkan dan dianggap keramat ini, Ki Rindon hanya bilang bahwa namanya “Maulana”. Menurut saya, besar kemungkinan itu hanya sebutan untuk orang yang dihormati, dan bukan nama sebenarnya.

Di area tersebut, terdapat makam Dalang Wayang Kulit Betawi, Ki Comong (lahir sekitar tahun 1918), Bapaknya (Sengke Bin Topeng) dan kakeknya (Topeng Bin Koja) serta Isterinya dan kerabat lainnya.

Seusai ziarah, kami duduk-duduk di pendopo depan makam Kramat Maulana sambil berbincang-bincang. Tak lupa, kami memesan secangkir kopi di warung tetangga sebelah untuk menemani perbincangan kami.

Menurut Ki Rindon, Ki Comong adalah penduduk aseli Pulojahe Cakung dan masih saudara misan buyut saya, Nyai Kunik Binti Keneng (Ibunda kakek saya, KH. Muhir Bin Poan). Ki Comong pernah beberapa kali menikah dan anak keturunannya banyak terdapat di beberapa tempat. Sementara Ki Rindon, anak dari isteri yang berasal dari Parung Bogor, yakni Hj. Kemi.

Dari hasil pernikahannya dengan Hj. Kemi, Ki Comong mendapatkan 4 (empat) orang anak, yaitu Ki Rindon sendiri, Siman (Dalang di Babelan, Cabang IV), Mamit (Pemain Gendang), Salam, dan Ny. Maryati.

Saat perang kemerdekaan, Ki Comong ikut berjuang dengan pemuda Cakung lainnya dalam barisan laskar sipil, Hizbullah, di bawah komando KH. Noer Ali. Setelah perang usai, baru kemudian Ki Comong berkonsentrasi mengembangkan bakat seninya yang lama terpendam, yaitu memainkan wayang kulit.

Sejak TMII didirikan, Ki Comong diminta pihak pengelolanya untuk mengisi anjungan Jakarta secara rutin sebulan sekali hingga meninggal dunia tahun 2009. Lalu dilanjutkan oleh putranya, Ki Rindon. Namun, karena honorarium yang didapatkan dianggap tidak memadai, sekitar tahun 2000an, Ki Randon menghentikan sama sekali aktifitas pementasannya di TMII.

Ki Comong adalah guru seni dan budaya bagi para seniman Betawi di zamannya, seperti H Bokir dan H Rais. Keduanya sering berkunjung untuk belajar atau sekadar bertukar pikiran tentang seni dan budaya Betawi.

Ki Rindon mengeluhkan kurangnya perhatian Pemda DKI Jakarta terhadap warisan wayang Betawi, sehingga tidak mampu bersaing dengan kesenian modern. Padahal banyak sekali piagam penghargaan yang didapatkan, baik oleh Ki Comong atau Ki Randon sendiri, dari Pemda DKI Jakarta.

Saat Jokowi baru menjabat sebagai Gubernur, Ki Rindon pernah dikunjunginya, dan dijanjikan mendapat perhatian pemda, namun tidak pernah terealisasi. Sementara Bamus Betawi, yang mewadahi semua ormas ke-Betawi-an di Jakarta pun seperti tak pernah mendengar sepak terjang Ki Comong atau lainnya. Suara rintihan Dalang Wayang Kulit Betawi seolah sirna termakan hiruk pikuk para pengurus Bamus dalam kesibukan berpolitik praktis yang pragmatis.

Ketika Pemda DKI Jakarta menggelontorkan dana hibah, memang sudah seharusnya Bamus Betawi mengambil alih peran melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi dan memberi alokasi dana yang cukup bagi para senimannya, sehingga bisa mempertahankan sanggar masing-masing.

Saat beranjak dari area pemakaman ke rumah Ki Randon, saya sangat terkejut dan hampir saja air mata saya membuncah keluar laksana air bah, melihat kehidupannya yang sangat sangat sangat sederhana. Namun yang menyedihkan hati Ki Rindon bukan masalah kehidupan pribadinya, tapi kelangsungan kesenian yang digelutinya, di mana wayang-wayangnya sudah lapuk dan tak mampu untuk diperbaiki akibat ketiadaan biaya. Kondisi perkakas kesenian dan piagam-piagam yang pernah didapatkannya nyaris hancur akibat banjir yang melanda daerah Pulojahe pada tahun 2007.

Ketika azan Zhuhur berkumandang dari Musholla Wakaf Ki Comong berkumandang, saya pun mengakhiri kunjungan saya, dan berpamitan pulang. Seusai sholat Zhuhur, saya meninggalkan rumah Sang Legenda Wayang Betawi, Ki Comong, dan berharap dapat balik kembali untuk dapat berguru pada budaya.

Jakarta, 14 April 2018

hngrck

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *